Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Thursday, 4 October 2012

Between You, Stars, and Me

The unimaginable threat of pollutions

Like a rocketing population

Bring us to episode of mass extinctions

But, can you give kinds of solutions?


No matter it is wrong or right

We have to fight

For stars at night

To their smile in daylight


Oh, you my love

Look at the stars above

Full of peace, like a dove

Also need our love



by: widodo van sodhunk

Sunday, 12 August 2012

Panas kok mendung

pagi mendung
siang panas
sore panas
malam mendung
mendung panas
panas mendung

mendung kok panas?
panas kok panas?
mendung apa mendung?
ah, biarlah!

Thursday, 7 June 2012

Sudut pandang yang berbeda

Sepoi angin melelapkan Jati
menidurkan sengon dan  trembesi
yang asyik berdendang melodi,

Melodi hijau yang telah mati

Cemara dan pinus sibuk mencari
mencari sang burung yang telah pergi
Pergi terusir gergaji
gergaji mesin si pencuri

aku rindu auman macan
aku menunggu alunan derkuku
Kata Beringin kepada inang-nya

Pepohonan kau tebangi
beton-beton kau tanami
cerobong itu kau pertinggi

Hutan kau bakar terganti uang
tanah kau gali terganti emas
itu semua berkedok eksplorasi
iya kan? maaf jika salah wahai mahluk pintar.

Aku, dia dan mereka
hanya menjerit saat terluka
dan menunggu
terus menunggu
Sebatang pohon kau tanam.

Thursday, 17 May 2012

Alunan batang hujan



Betapa indahnya...

bila kuhadapi kegelapan,

kuhadapi kelaparan,

hujan,

bila kuhadapi kedukaan,

kuhadapi cacian,

teguran.

Sebagaimana yang dihadapi hewan

dan sebagaimana yang dihadapi

oleh batang-batang pohon..

Wednesday, 28 March 2012

Aku dan Kamu

Merana aku karenamu
Kering kerontang kulit ku
Penuh sesak nafas ku
itu semua karena acuhmu

tetesan air rintik-rintik,
sinar mentari terik,
serta parodi suara jangkrik
tetap tak bisa meluluhkan plastik

Aku sedih,
Badanku perih
Aku sedih,
Badanku perih

Terdengar riuh
suara bergemuruh
itu jeritan hewan-hewan berparuh
yang membuat hatiku runtuh
dan kamu tetap acuh

Nafasku
tersedak asap pabrik mu
tersedak asap mesin mu
serta asap hutan terbakar itu.

Kamu ingin aku bersahabat,
tetapi kamu menyakiti sahabat
apa kamu tahu apa itu sahabat?
kini, aku, tidak bisa bersahabat.

Saturday, 10 March 2012

Sembilan-Tiga-Satu Dua

Sembilan Tiga Satu Dua
Ku menapaki sepi tubuhmu
Di kejauhan mata, terlihat samar
lekuk tubuhmu yang telah usang
Sisa air hujan semalam menyisakan
pekikan kecil orang tak waspada
Tubuhmu remuk menganga bagai
makam tak terawat, Menyedihkan


Sembilan Tiga Satu Dua
Ku berjalan di dalam sepi
Dan ku tengok jam yang bergelayut di lengan
Ahh, masih jam delapan lewat, gumamku
Kemanakah keceriaan, canda tawa, dan bayi dalam gendongan?
Yang terdengar hanya kokokan ayam jago
di malam hari, Aneh


Sembilan Tiga Satu Dua
Semakin sepi
Masih sendiri melewati ular air
Simbol kemakmuran desa
Desisannya terdengar bagai angin musim hujan
bergemuruh penuh semangat
Lampu remang di kejauhan itu
menuntunku melewati sepi
lelah, ku duduk di tepi tanggul kecil
sambil melayangkan ingatan
tempat ini di masa dulu, Tetap sepi.

Thursday, 5 January 2012

Sebelum 12 Merubah 11...

sebelum 11 menjadi 12
tersenyum menyombong si mentari
awan kelabu minder dan pergi
barisan kotak besi
raksasa berbaris rapi

sebelum 11 menuju 12
sisa-sisa asap kelam
meninggalkan bekas kusam
di udara yang bersih
dan hidung ku tutup risih

sebelum 11 menjadi 12
di jalanan yang berlubang
seperti kapal diterjang
gelombang pasang
sebuah balok kecil terbang
melayang.............

berguling di aspal yang tak lagi hitam
bak meriam
dia menghujam..

di tikungan itu,
waktu mengharu biru
sang bayu menarikan tarian sendu.


Sebelum 12 Merubah 11... oleh: Widodo van Sodhung

Monday, 21 November 2011

Lidi-lidi

lidi suka serakan daun
lidi suka serakan sampah
lidi takkan suka sendiri

tiga lidi bersenandung pagi
membelai
daun gugur seiring guntur
malam tadi

tiga lidi menari-nari
diiringi hangat mentari
di situ
menggunung daun
bertumpuk sampah

keranjang anyaman
bambu bermulut besar
menelan gunung
memuntahkan sampah
tiga lidi tersandar
di balik daun pintu

Tuesday, 25 October 2011

a blue lady

behind the tree in rainy day

i know, a lady

her blue face falling

her shadow running


behind the tree in rainy day

they know, no lady

never know beside the trees

rain as the tears


crying in the rain

in sorrow and pain,

now, under the branches

still crying in loneliness


wind find the lady

behind the tree in rainy day




Oct' 24 2011 5.02 pm

Wednesday, 21 September 2011

bukan puisi tentangmu

terlalu sesak kaki di wajah
bisul beton abu-abu menengadah
bertarung dengan usia
seakan percuma

keriput sudah kulitmu
hilang sudah baju hijau
kering air mata
si agni membara

bunga bunga sampah
berserak di wajah
kerontang pipi
lalat hitam menari

lubang menganga
semua terlena
tunggu saja
saatnya akan tiba..

Wednesday, 14 September 2011

Demi Sebuah Pintu Depan

derap langkah para ahli bangunan
merdu terdengar
bersaing dengan alunan dosen
yang sedang mengajar

pasir, timba, kayu berserakan dengan rapinya
paku, palu, bambu mendendangkan nada
lagu pengganggu siswa
terganggu oleh mereka

pintu depan setengah jadi
merusak ruang yang tlah rapi
mungkin itu mimpi
mimpi para petinggi

pintu depan kapan engkau jadi?
suara mesin gerinda bising
di kuping
timba-timba jatuh kapan kau berhenti?

Monday, 25 July 2011

Poetry Hujan: menangis dalam hujan

dalam rintik hujan
dalam kesedihan dan kesakitan,
seorang anak gelandangan
menangis dalam hujan ....

tertelan
rindangnya dahan,
tidak ada yang dapat melihatnya,
tak ada yang dapat mendengarnya,
tetap tak ada yang menghiraukan.

menangis dalam hujan....
ia menatap pohon-pohon,
dan melihatnya menangis,

menangis dalam hujan ....
Hujan masih tertuang,
tapi anak tidak menangis.
namun, pohon-pohon selalu
menangis dalam kesepian
menangis dalam hujan ...



Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis