Pada suatu malam di sebuah terminal becak, entah tahun berapa saya lupa, yang saya ingat hanya harinya. Kamis wage.
Ada sepasang kekasih yang duduk di sebelah saya. Kalau gak salah namanya Kartini dan Kartono. Mereka terlibat pembicaraan yang sangat serius (kelihatannya sih..). Nguping ahh,.
Kartono: "Emm... Kartini, kamu tau nggak....?"
Kartini: "Enggak, Mas." (dengan wajah lugu nya, Kartini memandang wajah sang kekasih.)
Kartono: "Aku belum selesai ngomong Ni, jangan dipotong dulu!"
Kartini: "Baik, Mas. Memang tadi Mas Tono mau tanya apa to?(penasaran)
Kartono: "Kamu tau nggak kalau sebenarnya aku ini punya bakat terpendam?"
Kartini: "Bakat apa itu, Mas?"
Kartono: "Bakat buat ngebahagiain kamu." hehehe
Kartini: #klepek-klepek#....
Tuesday, 24 April 2012
Wednesday, 28 March 2012
Aku dan Kamu
Merana aku karenamu
Kering kerontang kulit ku
Penuh sesak nafas ku
itu semua karena acuhmu
tetesan air rintik-rintik,
sinar mentari terik,
serta parodi suara jangkrik
tetap tak bisa meluluhkan plastik
Aku sedih,
Badanku perih
Aku sedih,
Badanku perih
Terdengar riuh
suara bergemuruh
itu jeritan hewan-hewan berparuh
yang membuat hatiku runtuh
dan kamu tetap acuh
Nafasku
tersedak asap pabrik mu
tersedak asap mesin mu
serta asap hutan terbakar itu.
Kamu ingin aku bersahabat,
tetapi kamu menyakiti sahabat
apa kamu tahu apa itu sahabat?
kini, aku, tidak bisa bersahabat.
Thursday, 22 March 2012
EART HOUR SUDAH DEKAT.... KAMPANYEEEEE
Ini bukan kampanye pemilihan Lurah atau kampanye tentang kenaikan BBM, kawan. Tetapi saya kampanye EARTH HOUR. pasti semuanya sudah tahu apa itu Earth Hour. Earth Hour adalah sebuah kegiatan yang diadakan oleh WWF (World Wildlife Fund) dan selalu dilaksanakan pada Sabtu terakhir bulan Maret setiap tahunnya, meminta rumah dan perkantoran memadamkan lampu dan peralatan listrik yang tidak perlu HANYA satu jam saja
Jadi, Matikan lampu pada tanggal 31 Maret besok ya. Jangan lupa..!!! 31 Maret 2012 jam 20.30 sampai 21.30 waktu setempat matikan lampu yang tidak dipakai. Kalau bisa dimatikan semua ya gak apa-apa...hehe
Mari kita mulai dari hal-hal terkecil seperti ini untuk dunia yang kita cintai, semoga bumi kita makin aman.
Monday, 19 March 2012
Nunut Ngiyup
Sabtu, entah tahun berapa. Burung-burung bahagia di dahan Mahoni mulai mendendangkan kebahagiaannya. Sinar mentari berusaha menerobos masuk melalui celah-celah ranting yang berdansa dengan belaian angin pagi, secercah cahaya menyilaukan mata saat ku menatap ke atas. Lekas ku menghalaunya dengan tangan kananku.
Gubuk kecil yang aku jaga tiba-tiba di datangi oleh seorang lelaki paruh baya dengan pakaian seadanya. Sebuah tas ransel coklat tak ber-merek terliht lemas di punggungnya. Tubuhnya sekitar 150cm, rambut hitam-cepak,keriting, kulit tidak begitu kuning, dengan cekungan mata yang terlihat begitu jelas menghiasi wajahnya.
Dia duduk di bangku dari bambu dan menaruh ranselnya di sebelah kirinya. Sambil menyapukan pandangan, dia terlihat mencari sesuatu, atau tepatnya seseorang.
"Maaf, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" tegurku pelan.
"Anu, Dek. Boleh saya nunut istirahat di sini sebentar, di gubug adek?"
"........"
SELESAI
Gubuk kecil yang aku jaga tiba-tiba di datangi oleh seorang lelaki paruh baya dengan pakaian seadanya. Sebuah tas ransel coklat tak ber-merek terliht lemas di punggungnya. Tubuhnya sekitar 150cm, rambut hitam-cepak,keriting, kulit tidak begitu kuning, dengan cekungan mata yang terlihat begitu jelas menghiasi wajahnya.
Dia duduk di bangku dari bambu dan menaruh ranselnya di sebelah kirinya. Sambil menyapukan pandangan, dia terlihat mencari sesuatu, atau tepatnya seseorang.
"Maaf, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" tegurku pelan.
"Anu, Dek. Boleh saya nunut istirahat di sini sebentar, di gubug adek?"
"........"
SELESAI
Saturday, 10 March 2012
Sembilan-Tiga-Satu Dua
Sembilan Tiga Satu Dua
Ku menapaki sepi tubuhmu
Di kejauhan mata, terlihat samar
lekuk tubuhmu yang telah usang
Sisa air hujan semalam menyisakan
pekikan kecil orang tak waspada
Tubuhmu remuk menganga bagai
makam tak terawat, Menyedihkan
Sembilan Tiga Satu Dua
Ku berjalan di dalam sepi
Dan ku tengok jam yang bergelayut di lengan
Ahh, masih jam delapan lewat, gumamku
Kemanakah keceriaan, canda tawa, dan bayi dalam gendongan?
Yang terdengar hanya kokokan ayam jago
di malam hari, Aneh
Sembilan Tiga Satu Dua
Semakin sepi
Masih sendiri melewati ular air
Simbol kemakmuran desa
Desisannya terdengar bagai angin musim hujan
bergemuruh penuh semangat
Lampu remang di kejauhan itu
menuntunku melewati sepi
lelah, ku duduk di tepi tanggul kecil
sambil melayangkan ingatan
tempat ini di masa dulu, Tetap sepi.
Ku menapaki sepi tubuhmu
Di kejauhan mata, terlihat samar
lekuk tubuhmu yang telah usang
Sisa air hujan semalam menyisakan
pekikan kecil orang tak waspada
Tubuhmu remuk menganga bagai
makam tak terawat, Menyedihkan
Sembilan Tiga Satu Dua
Ku berjalan di dalam sepi
Dan ku tengok jam yang bergelayut di lengan
Ahh, masih jam delapan lewat, gumamku
Kemanakah keceriaan, canda tawa, dan bayi dalam gendongan?
Yang terdengar hanya kokokan ayam jago
di malam hari, Aneh
Sembilan Tiga Satu Dua
Semakin sepi
Masih sendiri melewati ular air
Simbol kemakmuran desa
Desisannya terdengar bagai angin musim hujan
bergemuruh penuh semangat
Lampu remang di kejauhan itu
menuntunku melewati sepi
lelah, ku duduk di tepi tanggul kecil
sambil melayangkan ingatan
tempat ini di masa dulu, Tetap sepi.
Subscribe to:
Posts (Atom)
