Friday, 31 May 2013

Petualangan Sehari di Krenceng

Kami berangkat dari sekretariat SWAPENKA pukul 11 siang, padahal rencana awal berangkat pukul 9 pagi. Molor karena persiapan ini dan itu yang masih belum lengkap. Setelah semuanya dirasa sudah cukup kami ber-empat, saya sendiri, Aren, Clorot, dan Bang Korep langsung tancap gas menuju tempat survei untuk sebuah kegiatan rutin. Tujuan awal kami adalah rumah Pak War, warga Gunung Pasang, Panti, Jember.

Setelah melewati jalanan yang bisa dibilang kurang layak, istilah kerennya itu ajur , sampai juga di tempat tujuan awal. Dan hujan deras akhirnya berhasil menahan kami sementara waktu di rumah sederhana itu. Sambil menunggu hujan reda, saya mencoba untuk mengingat-ingat lagi jalan yang dulu pernah saya lewati di kegiatan yang sama yaitu pengambilan Nomor Induk Anggota dan itu sudah 3 tahun yang lalu.

Dari belakang rumah Pak War, langsung naik menelusuri kebun kopi melalui jalur setapak yang kering dan terlihat jelas, kemudian jalannya menanjak hingga tiba di punggungan pegunungan Krenceng. Nah itulah jalur awal yang masih saya ingat setelah sekian tahun berlalu. Hujan pun berhenti tepat pukul 2 sore, pertanda bahwa sebuah petualangan yang seru akan dimulai. Tas karier yang berisi perlengkapan dan bahan logistik langsung bertengger santai di punggung kami masing-masing, langsung pamitan pada si-empunya rumah dan kami pun mendapatkan sebuah senyuman hangat untuk bekal di perjalanan. Sungguh istimewa.
****

Kaki saya menapaki jalanan berlumpur dengan sisa genangan air hujan di beberapa cekungan, ujung celana langsung basah oleh embun yang menempel di rerumputan. Saat mata mengamati daerah sekitar ternyata berubah total, tidak seperti yang saya bayangkan tadi. Jalan menuju punggungan sudah mulai samar karena semak dan rumput sudah mulai rimbun sehingga menutup setapak. Yang tidak berubah hanya pohon kopi.

Semakin menjauh, maka semakin menanjak jalannya. Ini dia tantangan terberatku saat berpetualang bermain di alam, TANJAKAN!. Tenaga serasa lebih cepat terkuras di medan yang menanjak, nafas sudah mulai tidak teratur dan tentunya semakin tertinggal dengan rombongan karena saya sangat sering berhenti hanya untuk sekedar mengatur nafas. "Berangkat duluan wes, nanti saya nyusul. Pemandangan di sini indah." Inilah senjata (alasan) ampuhku yang selalu saya keluarkan untuk berhenti karena kecapekan di jalan yang menanjak..hahaha. Jalan di tanjakan memang serasa lari marathon bagi saya, membuat nafas habis dengan cepat. Wah ini namanya berpetualang sekaligus berolahraga, batin saya. Sudah mendapatkan pemandangan yang belum tentu semua orang bisa lihat, saya mendapat bonus "sehat" yang kata orang itu mahal harganya. Keren.

Sampai juga di punggungan Krenceng, dari sini saya sudah bisa melihat perkampungan Gunung Pasang, perkebunan kopi, dan kota Jember tepat di sebelah kanan saya. Seteguk air, beberapa jepretan kamera dicampur dengan indahnya pemandangan adalah ramuan manjur untuk menghilangkan rasa lelah tadi. Perjalanan-pun kami lanjutkan lagi. Tujuan kedua adalah tempat camp. Syukurlah medan menuju tempat menginap ini datar, tetapi semak belukar berduri menjadi tantangan selanjutnya. Meskipun sudah melangkah dengan hati-hati masih saja ada beberapa duri yang masih nekat nyenggol seakan mencari perhatian kami.
Berjalan melewati semak berduri
 Akhirnya kami lolos dari belukar, hamparan kebun kopi masih setia menemani. Baru beberapa menit melangkah, bambu-bambu yang roboh menutupi seluruh jalan setapak melengkapi indahnya perjalanan hari ini. "Waduh jalannya buntu, coba cari jalan lain" kata Bang Korep. "Ada Bang, tapi jalannya ke atas (nanjak)" jawabku. Ah, dari pada lewat jalan menanjak lagi saya berinisiatif untuk membabat bambu.hehehe
Dan saya yang akhirnya menjadi eksekutor, tebas atas, tebas bawah, babat kanan kiri, tarraaaa.. Tembus juga benteng bambunya. Lega.
****

Hari semakin sore dan cahaya langit mulai redup. Kami tiba di tempat camp, ada sebuah pondok bambu berukuran 1x2 meter di kanan jalan. Tetapi yang jelas kami tidak bermalam di situ, kami membawa tenda kok. Srett...sreet.. srett.. dalam sekejap mata berdirilah tenda yang cukup untuk diisi kami berempat. Istirahat adalah pilihan paling tepat saat ini. Di tengah waktu bersantai setelah seharian berpetualang, kami disibukkan dengan melihat tangan, kaki dan anggota tubuh yang lain apakah ada pacet yang nempel apa tidak. Ternyata saya mendapatkan lebih dari 5 pacet di kaki saya. Oh iya, saat pacet dilepas satu persatu maka darah segar-pun akan mengucur dari bekas gigitannya. Dan rekor pacet terbanyak dimenangkan oleh saya sendiri. Memang saat musim hujan dan keadaan lahan lembab, di sini pacet akan dengan mudah kita temukan.

Si Aren, satu-satunya anggota cewek bersiap-siap untuk mulai memasak sedangkan saya dan yang lain bermain di sungai. Tau nggak kalau air disini sebening air isi ulang lho? dan mungkin lebih jernih sungai ini. Kita bisa langsung meminumnya. Suegeerrrr..... Wah lupa, kok malah gak bantuin yang masak ya?hahaha

Itulah petualangan sehari saya di Krenceng. Berpetualang sekaligus berolahlaga itu ternyata menyenangkan. Oke dulur, untuk cerita yang hari kedua disambung di lain waktu yaa.. Salam Lestari!


16 comments:

  1. cieee , skg alih profesi jadi pembabat bambu haha

    ReplyDelete
  2. hahaha... sekalian olahraga put. :D
    selain pembabat bambu, profesiku juga pembabat kejahatan..haha

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. essih, seneng rek jare mas Bro "sip!" hehehe

      Delete
  4. istimewa......joss....!!!

    ReplyDelete
  5. Kereeeeen.. Jadi inget waktu jalan2 ke Pulau Sebesi di Lampung Selatan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe.. jalannya menanjak juga ya mas??

      Delete
    2. nanjak banget :D
      nyusuri kebun coklat, kebun cengkeh... jalan mendaki gunung mas..
      judulnya kmrn2 itu trip yang di bohongi :))

      Delete
    3. waduh bisa2 saya jd rombongan paling belakang lagi kalo maen ke Pulau Sabesi,. ampun dah sama tanjakan. tapi itulah tantangannya untuk mendapatkan pemandangan yg bagus. :)

      Delete
    4. Yup bener banget... setelah ampe atas puas sih walopun ternyata tertipu karena sebelumnya dibilang kalo di atas gunungnya ada danau, ternyata danaunya fatamorgana :))

      Delete
    5. wah danau di puncak gunung? seperti di gunung Ijen dong hehehe.. tapi klo di Ijen bukan fatamorgana lho mas.

      Delete
    6. Wah Ijen saya baru denger tuh :D
      Ada tulisan soal Ijen Mas? :D

      Delete
    7. Ijen bisa diakses melalui 2 jalur mas, bisa dari arah Banyuwangi dan dari Bondowoso Jawa timur. :)
      untuk tulisan tentang ijen saya belum ada mas hehe

      Delete
  6. Ajurrr mumurrrrrr....... enak kyk e nyangkruk d air terjun tancak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas.... tapi banyune tambah sitik saiki.

      Delete