Tuesday, 25 June 2013

Kenangan Panggung Terbuka Fakultas Sastra

fakultas sastra, panggung terbuka sastra
Candi di Fakultas Sastra Universitas Jember
Di Fakultas Sastra Universitas Jember terdapat sebuah panggung pementasan tepat di sebelah kantin. Panggung yang dijadikan pusat kegiatan berkesenian bagi mahasiswa Sastra itu, kini hanyalah tinggal kenangan. Karena pada akhir tahun 2009 pihak kampus telah memugarnya untuk membangun gedung perkuliahan yang baru. Orang-orang biasa menyebutnya panggung terbuka.

Dulu, saat masih hangat-hangatnya menjadi mahasiswa, saya langsung dibuat jatuh cinta oleh sebuah relief raksasa (buto) yang melekat di dinding panggung terbuka. Banyak mahasiswa yang latihan teater, nyanyi, atau bahkan hanya sekedar bermain badminton tanpa net nya. Sekarang panggung terbuka Sastra tinggal menjadi kenangan. Tetapi tidak semua bagian dari panggung itu lenyap. Masih tertinggal dua buah bangunan yang mirip candi. Dan itu sudah bisa menjadi penawar rindu saya terhadap panggung terbuka Sastra.

Pihak Fakultas sendiri telah membuatkan sebuah panggung terbuka yang baru pasca dibongkarnya panggung pertunjukan itu. Tepatnya di belakang gedung baru. Menurut saya tempat tersebut kurang cocok, karena berada jauh dari pusat berkumpulnya mahasiswa. Sekarang panggung terbuka yang baru masih menunggu kreasi para mahasiswa Sastra, setia menunggu walau lumut dan rumput liar sudah mulai tumbuh di lantainya. Salam lestari...!
###

Wednesday, 19 June 2013

Bersama Saudara di Diesnatalis Akasia

Cerita ini tentang kegiatan yang saya hadiri di sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Hukum Unej, IMPA AKASIA. Ini adalah organisasi pencinta alam yang sudah eksis cukup lama di Fakultas Hukum karena sekarang sudah menginjak usia 30 tahun.

Minggu, 16 Juni 2013, Akasia merayakan hari lahirnya dengan mengundang seluruh organisasi pencinta alam. Mulai dari Jember sendiri, Banyuwangi, Bondowoso, dan sekitarnya. Ini memang sebuah budaya dari anak pencinta alam, semua pencinta alam adalah saudara. Jadi pas ada kegiatan besar, khususnya diesnatalis, maka diundang ataupun tidak para saudara-saudara jauh akan datang dengan senang hati. Biasanya kegiatan diesnatalis yang ekstern (ngundang pencinta alam lain) diisi oleh hiburan musik dan makan bersama. Nah, sensasi makan bersama dalam satu wadah ini rupanya yang membuat tali persaudaraan semakin erat. Semua orang tumplek blek jadi satu dalam suasana kebersamaan. Sungguh indah.

Bertepatan dengan diesnatalis Impa Akasia, mereka mengadakan sebuah lomba menulis essay yang bertemakan lingkungan. Karena saya mulai senang dengan yang namanya tulis-menulis, saya ikut berpartisipasi bersama dengan 2 rekan SWAPENKA yang lain yaitu Al-Nendes dan Rotan. Mereka juga blogger aktif dan suka menulis. Di malam itu pengumuman lombanya diumumkan, semua peserta menunggu dengan penasaran siapa yang akan menjadi juaranya. Dan akhirnya Rotan dan saya dipanggil oleh panitia. Kami berdua ternyata terpilih sebagai pemenang, Rotan juara 3, saya juara 2, dan seorang SISPALA (Siswa Pencinta Alam) cewek menjadi juara pertama. Selamat yaa.. :-)

Tanggung Jawab Besar Si Mayoret Cilik

sastra unej, mayoret cilik
Marching Band Cilik di Hari Lahir Pancasila
Tanggal 1 Juni 2013 yang lalu saya melihat sebuah atraksi marching band yang dilakukan oleh anak-anak SD di acara peringatan Hari Lahir Pancasila yang diadakan Universitas Jember. Ada hal yang cukup menarik perhatian saya, yaitu liak-liuk tegas dan atraktif dari mayoretnya. Mayoret adalah bagian terpenting dari sebuah marching band, karena dia yang menentukan baik atau tidaknya penampilan group yang dipimpinnya. Jadi mayoret memikul tanggung jawab yang cukup besar. Tetapi yang namanya sebuah group tak lepas dari kerjasama. Kerjasama antara peniup terompet, pemukul drum, pianika, dan lain-lainnya dengan satu komando dari mayoret.

Meskipun masih sekolah dasar Si-Kecil yang berwajah unyu-unyu ini sudah bisa menjadi panutan teman-temannya, karakternya yang tegas membuatnya terlihat berwibawa. Jika ada anak buahnya yang rame atau tidak mendengarkan instruksi yang diberikan maka teguran keras langsung melayang. Melihat penampilannya yang bisa dibilang sempurna seperti itu mungkin latihan-latihan yang dijalani tak semudah yang saya lihat. Mayoret itu tugasnya selain mengatur barisan, dia juga harus mengatur irama. Hasilnya bisa dilihat dari barisan yang tertata begitu rapi dengan irama instrumen sedap didengar oleh penonton.

Atraksi yang saya kagumi adalah saat mayoret ini memainkan baton (tongkat). Tongkat yang terlihat berat itu dilemparkannya ke udara kemudian ditangkap lagi tanpa terjatuh, diputar-putar dan masih banyak lagi. Saya sempat mengabadikan beberapa ekspresi dari mayoret-mayoret cilik di acara yang digawangi oleh Universitas Jember.
hari lahir pancasila universitas jember, mayoret cilik
Melirik Tajam
foto mayoret, hari pancasila unej
Biru dan Merah
hari lahir pancasila unej , marching band, mayoret
Senyuman Ramah dari Mayoret

Catatan:
Foto-foto ini saya ambil saat gladi bersih sebelum rombongan marching band turun ke jalan raya. Tepatnya di sebelah Fakultas Ekonomi Universitas Jember.

Telkomsel Menemani Hingga Tanah Suci

Telkomsel kembali menghadirkan fitur dan layanan paling lengkap disertai tarif yang paling spesial bagi pelanggan yang akan menjalankan ibadah Umroh di Tanah Suci. Seluruh pelanggan Telkomsel, baik prabayar maupun paskabayar dapat berkomunikasi dengan tarif semurah tarif lokal Arab Saudi tanpa perlu ganti kartu. Tarif spesial Umroh ini dapat dinikmati pelanggan hingga 31 Agustus 2013.

Komunikasi saat Umroh di Tanah Suci kini didukung oleh semua operator di Arab Saudi yaitu Mobily, STC / Al Jawal dan Zain, sehingga pelanggan tidak perlu setting manual untuk memilih jaringan operator lokal Arab Saudi dan tidak perlu ganti kartu. Untuk telpon ke Tanah Air, pelanggan hanya dikenakan tarif Rp 5.000 / menit, SMS kemana saja Rp 500 / SMS, menerima panggilan telpon di Arab Saudi Rp 3.000 / menit, sedangkan untuk panggilan telpon lokal hanya Rp 2.000 / menit, serta gratis menerima SMS disemua jaringan operator Arab Saudi. Bahkan pelanggan Telkomsel tetap dapat terhubung dengan berbagai informasi selama berada di Arab Saudi dengan memanfaatkan tarif hemat layanan data Rp 1.000 / 10 KB untuk pemakaian internet. Info lengkap silahkan kunjungi www.telkomsel.com

Informasi TELKOMSEL yang lain:

Ayo sukseskan acara Lomba Blog Universitas Jember yang didukung oleh Telkomsel.

Monday, 17 June 2013

SWAPENKA Melakukan Pengamatan Burung di UNEJ

Universitas Jember yang terkenal dengan istilah Green Campus sepertinya sudah mempunyai penggemar setia, dan tak lain adalah burung. Ya, melihat banyaknya pepohonan di wilayah Unej tidak heran jika para burung tersebut memilih kampus kita ini sebagai surga mereka. Surga para burung. Kita bisa dengan mudah menemukan burung beterbangan di pepohonan. Tahukah kalian jika burung juga bisa digunakan sebagai indikator kesehatan lingkungan? Dengan adanya burung di suatu tempat, bisa dikatakan jika lingkungan di tempat itu sehat.

Saya mendapatkan ilmu tentang burung yang sangat bermanfaat ini ketika masuk SWAPENKA, Mahasiswa Pencinta Kelestarian Alam,  sebuah organisasi pencinta alam di Fakultas Sastra Universitas Jember. Mudahnya menemukan burung beterbangan di antara pohon rindang menandakan adanya ruang terbuka hijau yang cukup. Selain itu ada kehidupan yang saling ketergantungan kemudian membentuk satu rantai makanan. Jika salah satu mahluk itu tidak ada maka akan merusak rantai makanan sehingga ekosistem di lingkungan tersebut bisa dinyatakan rusak.
SWAPENKA, pengamatan burung unej, kegiatan swapenka
Mengamati burung di Fakultas Sastra
 Pada hari Minggu, 9 Juni 2013, Anggota Muda SWAPENKA mengadakan praktek materi lapang tentang pengamatan burung di lingkungan Universitas Jember. Nah, kegiatan seperti ini bertujuan untuk infentarisasi jenis-jenis burung yang ada. Jika kita melihat satu jenis burung maka langsung dicatat bagaimana ciri-ciri fisiknya, perilakunya, cara terbang, waktu ditemukan dan lain sebagainya. Selain dari melihat langsung, suara dari burung juga bisa mengidentifikasikan kalau jenis burung yang memiliki suara seperti itu masih ada di wilayah Universitas Jember.

Beberapa jenis burung yang belum pernah kami temui sebelumnya, tercatat di bagan infentarisasi. Terus bagaimana jika kita tidak tahu nama dari jenis burung tersebut? Tenang, kami memiliki sebuah buku tentang burung yang bisa dikatakan paling lengkap karena sudah disertai dengan gambar serta ciri-cirinya. Teman-teman biasa menyebutnya dengan "Buku MacKinnon". Nama MacKinnon sendiri sebenarnya adalah nama dari pembuat buku tersebut John F MacKinnon, judul asli bukunya adalah "Burung-burung di Jawa, Bali, dan Sumatra".

Kembali lagi tentang burung-burung yang ada di kampus Unej,

Malam ini saat pulang dari acara Dies Natalis Akasia, pencinta alam Fakultas Hukum, saya melihat dua orang pemuda yang sedang mencari burung di sekitar gedung POMA Ekonomi. Ternyata banyaknya burung yang ada di Universitas Jember mulai mengundang para pemburu untuk menangkap mereka, dijual lagi atau hanya dijadikan  hiasan sangkar di rumah. Sungguh ironi, dimana peran burung yang sangat penting di sisi lingkungan  tetapi diambil satu-persatu demi kepuasan segelintir 'penikmatnya'.

Ah, burung itu akan terlihat lebih indah jika ada di alam liar. Semoga burung-burung tetap menganggap Universitas Jember sebagai surga mereka. Salam lestari...

Bonus foto-foto pengamatan burung:
SWAPENKA, pengamatan burung unej, kegiatan swapenka
Wah, kok ada burung seindah itu ya?
SWAPENKA, pengamatan burung unej, kegiatan swapenka
Proses inventarisasi oleh Anggota Muda Swapenka
SWAPENKA, pengamatan burung unej, kegiatan swapenka
Pengamatan burung di belakang Fakultas Hukum
SWAPENKA, pengamatan burung unej, kegiatan swapenka
Lihat buku MacKinnon dulu ahh.