pagi mendung
siang panas
sore panas
malam mendung
mendung panas
panas mendung
mendung kok panas?
panas kok panas?
mendung apa mendung?
ah, biarlah!
Sunday, 12 August 2012
Thursday, 9 August 2012
Buka Puasa di Gumuk Kerang
Halloo Boss.........
Wah ternyata sudah lama gak ngutak-atik blog, hehe. Hmm., cerita tentang apa ya ? Oh iya, saya mau cerita tentang kegiatan ngumpul-ngumpul saja ya.
Aroma gurih bawang goreng, terasi dan ikan semriwing beterbangan mengikuti angin, menggoda orang yang berpuasa.
Tepat sampai di puncak adzan magrib tanda berbuka langsung berkumandang. Es buah sudah tertata rapi beralaskan rumput di depan kami.. Hemm, buka puasa kali ini cukup berkesan.
Cahaya lampu kota semakin indah di bawah sana, seindah bintang di gelap malam. Api unggun dan jagung bakar menjadi teman di malam yang penuh kebersamaan.
SALAM LESTARI..!
Wah ternyata sudah lama gak ngutak-atik blog, hehe. Hmm., cerita tentang apa ya ? Oh iya, saya mau cerita tentang kegiatan ngumpul-ngumpul saja ya.
Kemarin, 8 Agustus 2012, tiba-tiba bau semerbak tempat pelelangan ikan Puger tercium jelas di luar Sekretariat SWAPENKA. Ternyata Si Ujep dan Sloo Bekisar sudah manggul dua kresek besar yang berisi ikan laut. Mereka baru datang membeli ikan di Puger buat persiapan buka puasa bareng MAPALA Se-Jember di Gumuk Kerang (sebuah gumuk kecil yang terletak tak jauh dari kampus UNEJ).
Siangnya, beberapa peralatan untuk memasak mulai berdatangan. Ada yang membawa wajan, galon, blender, dan lain-lain wes. Pembagian tugas dimulai. ngupas bawang, ngiris cabe, masak nasi, dan bumbu-bumbu di handle para cewek (mak kyok ngene? jare wes jaman emansipasi?) :D. Sementara para cowok membuat perapian untuk bakar ikan dan yang lainnya korah-korah..haha
Aroma gurih bawang goreng, terasi dan ikan semriwing beterbangan mengikuti angin, menggoda orang yang berpuasa.
![]() |
| Cewek-cewek pembakar ikan :-D |
Perjuangan belum usai, setelah semua masakan sudah siap, teman-teman membawa bahan makanan ke tempat yang telah disepakati yaitu Gumuk Kerang. Nasi sebakul, galon berisi air full, dan yang pastinya ikan bakar dan ikan goreng gak mau ketinggalan. Semua itu harung diangkut ke atas gumuk, padahal jalannya begitu menanjak dan ditumbuhi beberapa semak belukan di samping kanan-kirinya. Semangat kebersamaanlah yang membuat rasa lelah menaiki gumuk seakan hilang begitu saja.
Tepat sampai di puncak adzan magrib tanda berbuka langsung berkumandang. Es buah sudah tertata rapi beralaskan rumput di depan kami.. Hemm, buka puasa kali ini cukup berkesan.
Cahaya lampu kota semakin indah di bawah sana, seindah bintang di gelap malam. Api unggun dan jagung bakar menjadi teman di malam yang penuh kebersamaan.
SALAM LESTARI..!
Friday, 22 June 2012
Kuliner Sitimewa: Mie Monster Ugal-Ugalan
Kawan, malam ini, 21 Juni 2012, keadaan di sini terlihat seperti malam-malam biasanya. Suara klakson mobil di belakangku, mesin-mesin kendaraan di samping kiri dan depan yang terus menderu-deru, ditambah teriakan knalpot mengeluarkan asap debu seakan turut memeriahkan suasana hiruk-pikuk Jalan Jawa. Ya, Jalan Jawa itu tepat berada di sebelah Selatan area kampus Universitas Jember, jalan yang selalu tidak pernah sepi dengan lalu-lalang kendaraan karena menjadi salah satu jalan utama bagi mahasiswa yang mondar-mandir dari kampus-kosan. Pemandangan di sepanjang trotoar jalan dijejali dengan warung-warung lesehan dan warung kopi, sesekali terlihat pasangan muda-mudi yang berjalan sambil bergandengan tangan dengan menjinjing sebungkus nasi goreng di tangan yang satunya.
Sesekali tercium aroma sedap dari bawang putih yang digoreng dari salah satu warung, menambah rasa lapar yang sedari-tadi terpendam. Ku sapukan pandangan mata di kanan-kiri jalan, di papan-papan menu, untuk menemukan jenis kuliner yang pas buat mengganjal perut malam ini, puluhan warung dengan pilihan menu yang hampir seluruhnya sama telah ku lewati. Tiba-tiba aku tertarik pada sebuah rombong penjual nasi goreng yang terdapat di sisi kanan jalan, sebuah tempat makan sederhana 'tanpa papan nama' malah terlihat mencolok diantara rombong-rombong yang lainnya. "Krucuukk... krucuukk...!" perutku berbunyi, tanda sudah gak tahan menanti pasokan sembako nih..hahaha.
"Mas, Mie satu! makan sini."
Tak lama kemudian sepiring mie goreng ditemani segelas air bening telah siap disantap, tapiii..... Woow, ini sih namanya bukan sepiring nasi, tapi, segunung!!!
"Bisa gak ya aku menyantap habis seporsi mie yang bisa buat 3 orang ini kekenyangan?"
"Mas, baik hati ya baik Mas, tapi ya jangan ugal-ugalan gini porsinya. Ini sih porsi monster." #ngomel sendiri di dalam hati.
Mie Monster: "Reekkk.... ayo tulungi aku ngentekno iki!"-_-)
Sikat daahh, mumpung seharian belum makan..hehe sedikit demi sedikit lama-lama habis juga mie ini. Selain ukuran porsinya yang sungguh-sungguh ekstra jumbo, rasa mie monster ini juga mantap jayaa! Sitimewa!! Untuk urusan harga, hmm,, satu porsi Anda hanya mengeluarkan 5 ribu rupiah saja. Murah kan??
Nah, Mie Monster ini bisa Anda jadikan referensi salah satu wisata kuliner malam di Jember, khususnya daerah kampus.
Selamat malam....
Selamat malam....
NB:
Sebelum membeli Mie Monster, sebaiknya Anda dalam keadaan yang benar-benar lapar... :-D
Monday, 18 June 2012
Si Daun Mungil Berjalan
| Daun ini berjalan lho... |
Gak percaya?? lihat dibagian bawah ada kaki mungil yang membuat tumpukan daun itu seperti berjalan..hehe.
| Si Daun Mungil VS daun yang sudah gak mungil lagi |
| Ini dia Si Mungil yang sedari tadi di balik daun |
Nah, gambar-gambar ini saya ambil pada tanggal 10 Juni kemarin di Cawang, Merubetiri. Cawang merupakan sebuah desa di ujung selatan kota Jember. Untuk mencapai desa ini dibutuhkan perjuangan ekstra yang menguras tenaga, jalanan berbatu dan berkelok menyambut pengunjung mulai dari pintu masuk Taman Nasional, dibutuhkan waktu lebih dari dua jam bersepeda motor.
Sore itu, sedang asyik-asyiknya ngopi di warung Bu Mamiek, tiba-tiba di kejauhan sepintas terlihat seonggok dedaunan yang kelihatan melayang, karena penasaran langsung saja saya mendekat, kemudian Jprett.. Jeprett.. beberapa kali tombol dari kamera hasil pinjaman itu ku pencet. Terlihat dengan langkah gontai anak itu berjalan terus tanpa melihat jalanan di depannya, dia hanya melihat kebawah sepanjang perjalanan dengan beban dedaunan di punggungnya, mungkin karena dia sudah hafal jalan ini. Meskipun begitu jika dilihat gerakannya itu mirip orang mabuk (kayak di TV-TV itu lho) sesekali miring ke kanan, ke kiri, dan ke kanan lagi.
Yaa, coba bayangkan saja anak sekecil itu membawa beban yang hampir sama dengan porsi orang dewasa, pasti akan terasa menyiksa. Akhirnya setelah merasa kecapekan, daun itu dijatuhkannya, kemudian setelah istirahat sejenak dilanjutkan perjalanannya menuju kandang sapi di belakang rumahnya.
Kegiatan Ngramban atau mencari daun untuk pakan hewan ini sudah seperti menjadi kewajiban untuk beberapa ibu-ibu di daerah Cawang. Karena mereka memelihara sapi dan kambing sebagai hiburan dikala Sang suami pergi bekerja.
Thursday, 7 June 2012
Sudut pandang yang berbeda
Sepoi angin melelapkan Jatimenidurkan sengon dan trembesi
yang asyik berdendang melodi,
Melodi hijau yang telah mati
Cemara dan pinus sibuk mencari
mencari sang burung yang telah pergi
Pergi terusir gergaji
gergaji mesin si pencuri
aku rindu auman macan
aku menunggu alunan derkuku
Kata Beringin kepada inang-nya
Pepohonan kau tebangi
beton-beton kau tanami
cerobong itu kau pertinggi
Hutan kau bakar terganti uang
tanah kau gali terganti emas
itu semua berkedok eksplorasi
iya kan? maaf jika salah wahai mahluk pintar.
Aku, dia dan mereka
hanya menjerit saat terluka
dan menunggu
terus menunggu
Sebatang pohon kau tanam.
Subscribe to:
Posts (Atom)
